Gelandang Inter Philippe Coutinho menegaskan
komitmennya untuk Nerazzurri. Seperti yang diketahui, Inter mendapatkan
banyak kritikan terkait perlakukan mereka terhadap Coutinho.
Coutinho: "Saya
memulai musim dengan baik, Saya tidak dapat mengeluh tentang bagaimana
semuanya berjalan di tahun ini. Kemudian, sayangnya, saya mendapatkan
cedera dan itu memperlambat. Saya butuh kerja lebih keras."
"Saya bermain lebih banyak dan mendapatkan kepercayaan orang-orang. Saya masih ingin memberi lebih, bagaimanapun juga.
Apakah saya melihat masa depan saya di Inter?
Ya, saya senang di sini, saya bahagia. Saya ingin berkembang dan meraih trofi di sini."
Forza KriwiL ^_^
sumber: internazionale milan fc
Rabu, 26 Desember 2012
Sneijder Menjadi Bagian Dari Sejarah Inter
Diego Milito, memuji semua yang telah Wesley
Sneijder persembahkan kepada tim selama membela Il Nerazzurri. Milito
juga menyatakan bahwa sekarang Sneijder memang berhak untuk memutuskan
masa depannya sendiri.
Hubungan Wesley Sneijder dan pihak manajemen Internazionale terus memburuk dalam beberapa bulan terakhir menyusul penolakan sang pemain untuk menandatangani kontrak baru yang ditawarkan klub. Ia juga sudah tidak bermain membela La Beneamata sejak pekan ke-5 Serie A 2012/13, melawan Chievo, karena hubungan pemain asal Belanda ini dengan pelatih Andrea Stramaccioni dikabarkan turut memburuk.
Melihat situasi sulit yang tengah dihadapi rekan setimnya itu, Diego Milito tetap memuji apa yang telah Sneijder lakukan selama membela Il Nerazzurri. Milito juga menyatakan bahwa mantan pemain Real Madrid dan Ajax itu berhak memutuskan masa depannya sendiri.
"Sneijder telah menjadi bagian dalam sejarah hebat klub ini. Para pemain juga memiliki hubungan yang sangat baik dengan dirinya. Kami telah melepaskan dia agar dia dapat memutuskan jalan mana yang akan ia ambil," kata Milito kepada Sky Italia.
sumber: Dunia Interisti
Hubungan Wesley Sneijder dan pihak manajemen Internazionale terus memburuk dalam beberapa bulan terakhir menyusul penolakan sang pemain untuk menandatangani kontrak baru yang ditawarkan klub. Ia juga sudah tidak bermain membela La Beneamata sejak pekan ke-5 Serie A 2012/13, melawan Chievo, karena hubungan pemain asal Belanda ini dengan pelatih Andrea Stramaccioni dikabarkan turut memburuk.
Melihat situasi sulit yang tengah dihadapi rekan setimnya itu, Diego Milito tetap memuji apa yang telah Sneijder lakukan selama membela Il Nerazzurri. Milito juga menyatakan bahwa mantan pemain Real Madrid dan Ajax itu berhak memutuskan masa depannya sendiri.
"Sneijder telah menjadi bagian dalam sejarah hebat klub ini. Para pemain juga memiliki hubungan yang sangat baik dengan dirinya. Kami telah melepaskan dia agar dia dapat memutuskan jalan mana yang akan ia ambil," kata Milito kepada Sky Italia.
sumber: Dunia Interisti
Ultras InterMilan
Curva Nord 69 menjadi salah satu kelompok
suporter yang paling disegani di Italia. Bukan hanya dari tindakan
anarkis mereka di lapangan, tapi juga dari sisi positif. Sudah 43 tahun
sejak tahun 1969 mereka mengabdikan dirinya
untuk menyemangati INTER setiap kali bertanding. Jelas dengan usia
setua itu, pengaruh mereka pun cukup kental. Bahkan, mantan kapten AC
Milan, Paolo Maldini pun sempat mengakui loyalitas pendukung setia
rivalnya itu. “Selama ini mereka memang kerap membuat kami khawatir di
lapangan, namun saya mengakui loyalitas mereka,” kata dia.
Curva Nord 69 bukan hanya di dominasi satu kelompok tifosi saja. INTER memiliki beberapa kelompok Ultras yg selalu setia mendampinginya disetiap laga. Salah satunya Boys S.A.N (Squadre d'Azione Nerazzurre), ada juga Ultras Inter, Viking Inter, Brianza Alcoolica, Irriducibili dan beberapa kelompok minor lain. Mereka inilah yang selalu menyemangati I Nerazzurri.
LA Curva Nord 69 Milano
1. Boys S.A.N (Squadre d'Azione Nerazzurre)
Kelompok tertua di Curva Nord 69
Berdiri pada tahun 1969, hanya selang setahun stelah Fossa dei Leoni pertama kali muncul. Boys diambil dari nama anak nakal disebuah komik bernama serupa. Di era 80-an Boys S.A.N kian ditakuti sebagai kelompok yang kerap membuat ulah. Namun,sejak awal 90-an Boys S.A.N meminimalisir aksi anarkis dan lebih fokus mengekspresikan fanatisme melalui berbagai koreografi di stadion.
Sekadar informasi, Boys S.A.N terbentuk karena meneruskan ide pelatih INTER ketika itu Helenio Herrera yang menginginkan terbentuknya sebuah kelompok suporter yg terorganisir dengan rapi.
2. Ultras Inter (Forever Ultras)
Di Curva Nord, Ultras menjadi yg tertua kedua stelah Boys S.A.N. Mereka berdiri sejak tahun 1975 dengan nama "Forever Ultras" sbelum diganti pd tahun 1995. Pelopornya adalah dua pemuda bernama Luciano dan Curzio,yg pertama kali memunculkan spanduk bertuliskan Forever Ultras di Curva Nord, tepat berdampingan dengan Boys S.A.N. Sejak 1997, Ivan Renato menjadi sutradara Ultras setelah meneruskan era kepemimpinan sebelumnya.
3. Viking Inter
Kelompok ketiga di Curva Nord ini terbentuk pd tahun 1984. Viking jg dikenal sbagai salah satu pendukung beraliran sayap kanan paling loyal di Italia. Sayangnya mereka kerap bersikap rasis. Kebetulan,Viking memang berhubungan sangat dekat dgn Blood and Honour Varese (kelompok suporter yg menolak anti rasisme di sepak bola). Viking pun menjadi sangat menonjol di Curva Nord dengan identitas bendera paling besar di antara suporter Ultras INTER lainnya.
4. Brianza Alcoolica
Brianza Alcoolica (semangat Brianza) memang baru resmi didirikan pada November 1985. Namun,berbagai spanduk bertuliskan nama kelompok mereka sudah muncul beberapa tahun sebelumnya di Madrid,Spanyol. Dipelopori oleh beberapa org yang merasa tidak cocok dengan segala kekerasan Curva Nord, Brianza Alcoolica memisahkan diri dengan idealisme mereka untuk menciptakan hiburan di stadion. Mungkin karena itu pula Brianza Alcoolica menjadi kelompok dgn jumlah suporter paling sedikit diantara lima lainnya.
5. Irridubicili
IRRIDUCIBILI INTER
Irridubicili menjadi kelompok paling kontroversial di antara Ultras INTER lainnya. Berdiri sejak tahun 1988, kelompok ini juga dikenal dgn nama "Skins" langsung membuat kericuhan dgn menyerang setiap pendukung lawan yg datang ke Giuseppe Meazza. Ciri khas Irridubicili adalah maskot seekor anjing hitam sebagai lambang kejahatan atau keonaran bernama Muttley. Dengan slogan "Non basta essere Bravi bisogna essere I migliori" yg berarti (Untuk menjadi yg terbaik,tidak cukup dgn bersikap baik),jadi,tidak heran jika Irridubicili kerap berbuat onar di stadion. Bahkan mereka dengan terang-terangan mengaku setiap mendukung INTER, tak akan pernah lepas dari minuman beralkohol.
6. Milano Nerazzurra
Kelompok ini memang lebih kecil dibanding Boys SAN atau lainnya. Namun,mereka justru mampu tampil dgn warna-warna mencolok melalui koreografinya di sisi kiri Curva Nord. Milano Nerazzurra jg mendapat julukan "Potere Nerazzurro" atau Si Hitam Biru yg Kuat. Sejak berdiri sekitar akhir 80-an, Milano Nerazzurri memang telah menyatakan ketidakcocokannya dengan saudara tua mereka Boys SAN. Tak heran jika letak kedua kelompok ini berjauhan,yg satu di sisi kiri dan yg satunya di sisi kanan.
7. Boys Sez Roma
Meski Boy Sez Roma lahir dari sekelompok laki-laki yg berasal dr Kota Roma, mereka justru merupakan pendukung fanatik INTER. Sejak awal berdiri pd 1979 lalu,kelompok ini memang membatasi anggotanya di usia 18-30 tahun dan tentunya dgn satu tujuan mendukung INTER. Boy Sez Roma mengambil posisi di sisi kanan Curva Nord dan berhubungan sangat dekat dengan Boys S.A.N.
Siamo L'armata Nerazzurra
FORZA INTER
-MIC-
sumber: internazionale milan fc
Curva Nord 69 bukan hanya di dominasi satu kelompok tifosi saja. INTER memiliki beberapa kelompok Ultras yg selalu setia mendampinginya disetiap laga. Salah satunya Boys S.A.N (Squadre d'Azione Nerazzurre), ada juga Ultras Inter, Viking Inter, Brianza Alcoolica, Irriducibili dan beberapa kelompok minor lain. Mereka inilah yang selalu menyemangati I Nerazzurri.
LA Curva Nord 69 Milano
1. Boys S.A.N (Squadre d'Azione Nerazzurre)
Kelompok tertua di Curva Nord 69
Berdiri pada tahun 1969, hanya selang setahun stelah Fossa dei Leoni pertama kali muncul. Boys diambil dari nama anak nakal disebuah komik bernama serupa. Di era 80-an Boys S.A.N kian ditakuti sebagai kelompok yang kerap membuat ulah. Namun,sejak awal 90-an Boys S.A.N meminimalisir aksi anarkis dan lebih fokus mengekspresikan fanatisme melalui berbagai koreografi di stadion.
Sekadar informasi, Boys S.A.N terbentuk karena meneruskan ide pelatih INTER ketika itu Helenio Herrera yang menginginkan terbentuknya sebuah kelompok suporter yg terorganisir dengan rapi.
2. Ultras Inter (Forever Ultras)
Di Curva Nord, Ultras menjadi yg tertua kedua stelah Boys S.A.N. Mereka berdiri sejak tahun 1975 dengan nama "Forever Ultras" sbelum diganti pd tahun 1995. Pelopornya adalah dua pemuda bernama Luciano dan Curzio,yg pertama kali memunculkan spanduk bertuliskan Forever Ultras di Curva Nord, tepat berdampingan dengan Boys S.A.N. Sejak 1997, Ivan Renato menjadi sutradara Ultras setelah meneruskan era kepemimpinan sebelumnya.
3. Viking Inter
Kelompok ketiga di Curva Nord ini terbentuk pd tahun 1984. Viking jg dikenal sbagai salah satu pendukung beraliran sayap kanan paling loyal di Italia. Sayangnya mereka kerap bersikap rasis. Kebetulan,Viking memang berhubungan sangat dekat dgn Blood and Honour Varese (kelompok suporter yg menolak anti rasisme di sepak bola). Viking pun menjadi sangat menonjol di Curva Nord dengan identitas bendera paling besar di antara suporter Ultras INTER lainnya.
4. Brianza Alcoolica
Brianza Alcoolica (semangat Brianza) memang baru resmi didirikan pada November 1985. Namun,berbagai spanduk bertuliskan nama kelompok mereka sudah muncul beberapa tahun sebelumnya di Madrid,Spanyol. Dipelopori oleh beberapa org yang merasa tidak cocok dengan segala kekerasan Curva Nord, Brianza Alcoolica memisahkan diri dengan idealisme mereka untuk menciptakan hiburan di stadion. Mungkin karena itu pula Brianza Alcoolica menjadi kelompok dgn jumlah suporter paling sedikit diantara lima lainnya.
5. Irridubicili
IRRIDUCIBILI INTER
Irridubicili menjadi kelompok paling kontroversial di antara Ultras INTER lainnya. Berdiri sejak tahun 1988, kelompok ini juga dikenal dgn nama "Skins" langsung membuat kericuhan dgn menyerang setiap pendukung lawan yg datang ke Giuseppe Meazza. Ciri khas Irridubicili adalah maskot seekor anjing hitam sebagai lambang kejahatan atau keonaran bernama Muttley. Dengan slogan "Non basta essere Bravi bisogna essere I migliori" yg berarti (Untuk menjadi yg terbaik,tidak cukup dgn bersikap baik),jadi,tidak heran jika Irridubicili kerap berbuat onar di stadion. Bahkan mereka dengan terang-terangan mengaku setiap mendukung INTER, tak akan pernah lepas dari minuman beralkohol.
6. Milano Nerazzurra
Kelompok ini memang lebih kecil dibanding Boys SAN atau lainnya. Namun,mereka justru mampu tampil dgn warna-warna mencolok melalui koreografinya di sisi kiri Curva Nord. Milano Nerazzurra jg mendapat julukan "Potere Nerazzurro" atau Si Hitam Biru yg Kuat. Sejak berdiri sekitar akhir 80-an, Milano Nerazzurri memang telah menyatakan ketidakcocokannya dengan saudara tua mereka Boys SAN. Tak heran jika letak kedua kelompok ini berjauhan,yg satu di sisi kiri dan yg satunya di sisi kanan.
7. Boys Sez Roma
Meski Boy Sez Roma lahir dari sekelompok laki-laki yg berasal dr Kota Roma, mereka justru merupakan pendukung fanatik INTER. Sejak awal berdiri pd 1979 lalu,kelompok ini memang membatasi anggotanya di usia 18-30 tahun dan tentunya dgn satu tujuan mendukung INTER. Boy Sez Roma mengambil posisi di sisi kanan Curva Nord dan berhubungan sangat dekat dengan Boys S.A.N.
Siamo L'armata Nerazzurra
FORZA INTER
-MIC-
sumber: internazionale milan fc
Istri Wesley Sneijder Isyaratka Pindah
Istri dari Wesley Sneijder mengungkapkan saat ini keluarganya sedang mencari tempat baru yang nyaman.
Istri Wesley Sneijder, Yolanthe Cabau, mengisyaratkan suaminya akan meninggalkan FC Internazionale di bursa transfer Januari.
Diungkapkannya, saat ini ia dan Sneijder sedang mencari tempat baru untuk keluarganya tinggal.
"Kami akan segera pindah," ungkap Cabau, Rabu (26/12).
"Kepindahan kami akan terkadi pada Januari dan kami mencari tempat yang nyaman untuk keluarga kami," tandasnya.
Kabarnya, London dan Manchester disebut-sebut akan menjadi kota yang akan ditinggali keluarga Sneijder setelah keluar dari Milan.
Tottenham Hotspur dan Manchester United masih dikabarkan menjadi klub yang akan meminang Sneijder dari Inter.
Siamo L'armata Nerazzurra
FORZA INTER
-MIC-
sumber: internazionale milan fc
Istri Wesley Sneijder, Yolanthe Cabau, mengisyaratkan suaminya akan meninggalkan FC Internazionale di bursa transfer Januari.
Diungkapkannya, saat ini ia dan Sneijder sedang mencari tempat baru untuk keluarganya tinggal.
"Kami akan segera pindah," ungkap Cabau, Rabu (26/12).
"Kepindahan kami akan terkadi pada Januari dan kami mencari tempat yang nyaman untuk keluarga kami," tandasnya.
Kabarnya, London dan Manchester disebut-sebut akan menjadi kota yang akan ditinggali keluarga Sneijder setelah keluar dari Milan.
Tottenham Hotspur dan Manchester United masih dikabarkan menjadi klub yang akan meminang Sneijder dari Inter.
Siamo L'armata Nerazzurra
FORZA INTER
-MIC-
sumber: internazionale milan fc
INTERMILAN TIDAK PERNAH DEGRADASI
Mengungkap Sejarah, 1921-22 Seharusnya Inter Degradasi?
Inter Milan tercatat sebagai satu-satunya klub Italia yang tak pernah terdegrasi ke Serie B. Hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Interisti. Inter selalu bermain di kasta teratas Italia.
Namun ternyata, di zaman nenek moyang kita, Inter pernah mengalami fase yang sangat buruk. Tepatnya pada musim 1921-22. Inter berada di posisi juru kunci klasemen grup B (peringkat 12) dengan 11 poin dari 22 pertandingan. La Beneamata hanya mampu 3 kali menang, 5 imbang, dan 14 kali kalah.
Fakta ini tiba-tiba saja menjadi perbincangan bagi Juventini akhir-akhir ini. Mereka menyebut Inter seharusnya terdegradasi, namun tak jadi karena ditolong oleh Federasi Sepakbola Italia (FIGC). Benarkah demikian?
Mengungkap Sejarah, 1921-22 Seharusnya Inter Degradasi?
Inter Milan tercatat sebagai satu-satunya klub Italia yang tak pernah terdegrasi ke Serie B. Hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Interisti. Inter selalu bermain di kasta teratas Italia.
Namun ternyata, di zaman nenek moyang kita, Inter pernah mengalami fase yang sangat buruk. Tepatnya pada musim 1921-22. Inter berada di posisi juru kunci klasemen grup B (peringkat 12) dengan 11 poin dari 22 pertandingan. La Beneamata hanya mampu 3 kali menang, 5 imbang, dan 14 kali kalah.
Fakta ini tiba-tiba saja menjadi perbincangan bagi Juventini akhir-akhir ini. Mereka menyebut Inter seharusnya terdegradasi, namun tak jadi karena ditolong oleh Federasi Sepakbola Italia (FIGC). Benarkah demikian?
Mengatakan hal tersebut sepertinya tak mau tahu apa yang sebenarnya terjadi. Di musim 1921-22 terjadi dualisme di Liga Italia. Bisa dikatakan sama dengan kondisi di Indonesia saat ini, di mana terdapat 2 kompetisi, Indonesia Super League (ISL) dan Indonesian Premier League (IPL).
Pada tahun 1921, Inter termasuk salah satu tim yang keluar dari FIGC dan mengikuti liga yang dibentuk oleh C.C.I (Confederazione Calcistica Italiana). C.C.I merupakan organisasi tandingan FIGC (Federazione Italiana Giuoco Calcio) yang dibentuk oleh tim-tim yang meminta rencana pengurangan anggota Liga Italia. Sama seperti KPSI di Indonesia sekarang.
Sejak awal, CCI ini tak jelas format degradasi dan promosinya. Sama halnya saat IPL pertama kali dibentuk, tak jelas apakah ada degradasi. Ingat ini liga tandingan. Tak mungkin langsung ada degradasi.
Nah, meskipun Inter berada di peringkat buncit, memang tak ada degradasi saat itu. Liga CCI ini akhirnya bubar dan dibentuk semacam play-off untuk bermain di musim 1922-23 di kompetisi resmi FIGC.
Inter harus mengikuti fase Spareggi (Babak kualifikasi pen-degradasi-an), dan Inter berhasil lolos kembali bermain di kompetisi teratas Italia setelah mengalahkan SC Italia-Milan 2-0 kemudian Libertas Firenze dengan agregat 4-1 (3-0 & 1-1) di kualifikasi Spareggi tersebut. Inter pun berhak bermain di Primera Divisione 1922-23.
Jadi yang patut digarisbawahi di sini Inter tak pernah degradasi. Di musim tersebut ada dualisme, dan memang pada awalnya tak ada format degradasi-promosi.
Sistem yang digunakan saat itu pun bukan Serie A yang kita kenal sekarang. Ada dua wilayah, utara selatan. Lalu tiap wilayah pun ada beberapa grup. Mungkin mirip dengan sistem Perserikatan dan Galatama di Indonesia dulu.
Serie A dengan format degradasi-promosi baru diperkenalkan di musim 1929-30. Ini format profesional dengan sistem satu wilayah. Dan total Inter telah 96 musim bermain di Serie A tanpa pernah merasakan Serie B.
So, berbanggalah menjadi Interisti!
Siamo L'armata Nerazzurra
FORZA INTER
-MIC-
sumber: internazionale milan fc
Inter Milan tercatat sebagai satu-satunya klub Italia yang tak pernah terdegrasi ke Serie B. Hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Interisti. Inter selalu bermain di kasta teratas Italia.
Namun ternyata, di zaman nenek moyang kita, Inter pernah mengalami fase yang sangat buruk. Tepatnya pada musim 1921-22. Inter berada di posisi juru kunci klasemen grup B (peringkat 12) dengan 11 poin dari 22 pertandingan. La Beneamata hanya mampu 3 kali menang, 5 imbang, dan 14 kali kalah.
Fakta ini tiba-tiba saja menjadi perbincangan bagi Juventini akhir-akhir ini. Mereka menyebut Inter seharusnya terdegradasi, namun tak jadi karena ditolong oleh Federasi Sepakbola Italia (FIGC). Benarkah demikian?
Mengungkap Sejarah, 1921-22 Seharusnya Inter Degradasi?
Inter Milan tercatat sebagai satu-satunya klub Italia yang tak pernah terdegrasi ke Serie B. Hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Interisti. Inter selalu bermain di kasta teratas Italia.
Namun ternyata, di zaman nenek moyang kita, Inter pernah mengalami fase yang sangat buruk. Tepatnya pada musim 1921-22. Inter berada di posisi juru kunci klasemen grup B (peringkat 12) dengan 11 poin dari 22 pertandingan. La Beneamata hanya mampu 3 kali menang, 5 imbang, dan 14 kali kalah.
Fakta ini tiba-tiba saja menjadi perbincangan bagi Juventini akhir-akhir ini. Mereka menyebut Inter seharusnya terdegradasi, namun tak jadi karena ditolong oleh Federasi Sepakbola Italia (FIGC). Benarkah demikian?
Mengatakan hal tersebut sepertinya tak mau tahu apa yang sebenarnya terjadi. Di musim 1921-22 terjadi dualisme di Liga Italia. Bisa dikatakan sama dengan kondisi di Indonesia saat ini, di mana terdapat 2 kompetisi, Indonesia Super League (ISL) dan Indonesian Premier League (IPL).
Pada tahun 1921, Inter termasuk salah satu tim yang keluar dari FIGC dan mengikuti liga yang dibentuk oleh C.C.I (Confederazione Calcistica Italiana). C.C.I merupakan organisasi tandingan FIGC (Federazione Italiana Giuoco Calcio) yang dibentuk oleh tim-tim yang meminta rencana pengurangan anggota Liga Italia. Sama seperti KPSI di Indonesia sekarang.
Sejak awal, CCI ini tak jelas format degradasi dan promosinya. Sama halnya saat IPL pertama kali dibentuk, tak jelas apakah ada degradasi. Ingat ini liga tandingan. Tak mungkin langsung ada degradasi.
Nah, meskipun Inter berada di peringkat buncit, memang tak ada degradasi saat itu. Liga CCI ini akhirnya bubar dan dibentuk semacam play-off untuk bermain di musim 1922-23 di kompetisi resmi FIGC.
Inter harus mengikuti fase Spareggi (Babak kualifikasi pen-degradasi-an), dan Inter berhasil lolos kembali bermain di kompetisi teratas Italia setelah mengalahkan SC Italia-Milan 2-0 kemudian Libertas Firenze dengan agregat 4-1 (3-0 & 1-1) di kualifikasi Spareggi tersebut. Inter pun berhak bermain di Primera Divisione 1922-23.
Jadi yang patut digarisbawahi di sini Inter tak pernah degradasi. Di musim tersebut ada dualisme, dan memang pada awalnya tak ada format degradasi-promosi.
Sistem yang digunakan saat itu pun bukan Serie A yang kita kenal sekarang. Ada dua wilayah, utara selatan. Lalu tiap wilayah pun ada beberapa grup. Mungkin mirip dengan sistem Perserikatan dan Galatama di Indonesia dulu.
Serie A dengan format degradasi-promosi baru diperkenalkan di musim 1929-30. Ini format profesional dengan sistem satu wilayah. Dan total Inter telah 96 musim bermain di Serie A tanpa pernah merasakan Serie B.
So, berbanggalah menjadi Interisti!
Siamo L'armata Nerazzurra
FORZA INTER
-MIC-
sumber: internazionale milan fc
Milito Incar Trophy di Tahun 2013
Striker Internazionale Diego Milito memuji sepak terjang Juventus di Serie A musim ini, tapi dia juga percaya dengan kualitas timnya. Milito bahkan menargetkan meraih trofi di tahun 2013 nanti. "Kami tim 'baru', tapi kami terus berkembang, bahkan sanggup melampaui harapan di awal," tutur striker Argentina itu pada Sky Sport Italia. "Juve memang sangat bagus, tapi kami berharap dapat menambah koleksi trofi ditahun 2013 nanti," lanjutnya. Delapan gol dalam pertandingan adalah
kontribusi Milito untuk Inter di Serie A 2012/13 sejauh ini. Sebuah kontribusi yang
positif. Inter sendiri pun sebenarnya juga bisa meraih pencapaian positif jika saja tidak
mengalami periode rollercoaster setelah mengalahkan Juventus di giornata 11, yang akhirnya membuat mereka tertinggal sembilan poin dari sang capolista. Namun, Milito yakin persaingan belum berakhir.
sumber: internazionale milan fc
kontribusi Milito untuk Inter di Serie A 2012/13 sejauh ini. Sebuah kontribusi yang
positif. Inter sendiri pun sebenarnya juga bisa meraih pencapaian positif jika saja tidak
mengalami periode rollercoaster setelah mengalahkan Juventus di giornata 11, yang akhirnya membuat mereka tertinggal sembilan poin dari sang capolista. Namun, Milito yakin persaingan belum berakhir.
sumber: internazionale milan fc
Langganan:
Postingan (Atom)





